Kamis, 11 Desember 2008

novel ay !!


A GIRL NAMED YURI

Yuri.
Kami biasanya memanggilnya begitu. Dia pernah bilang kalau itu bukanlah nama aslinya. Tapi kami gak pernah mempermasalahkannya. Toh, ditempat seperti ini gak ada yang peduli dengan nama atau asal usul seseorang. Yang paling penting adalah diri sendiri.
Banyak yang bilang kalo tempat ini adalah surga dunia, dimana segala norma social dan norma agama sudah tidak berlaku lagi.
Di tempat ini, pernikahan sudah bukan lagi sesuatu yang sacral. Seseorang yang telah menikah dapat dengan mudah meniduri anak, menantu, mertua bahkan istri atau suami orang lain dan meninggalkannya tanpa sedikitpun rasa bersalah. Tentu saja apabila hal itu dilakukan atas dasar suka sama suka.
Hubungan sejenis juga diperbolehkan ditempat ini, bahkan mereka sering melakukan hubungan seksual di tempat umum tanpa sedikitpun rasa malu. Dan seperti yang kubilang gak akan ada seorangpun yang peduli.
Para pemuka agama malah lebih parah lagi, mereka gak segan-segan menjadikan rumah ibadah sebagai tempat pelampiasan nafsu bejat mereka.
Yah, bagi para manusia yang masih ‘waras’ seperti aku, jelas hal itu membuat risih. Aku ingin menghabisi mereka semua dari muka bumi ini, dan itulah alasan utama kenapa aku bergabung dengan kelompok ini. Mereka menyebut diri mereka Revolt Group. Mereka seperti kumpulan pembunuh bayaran yang membunuh target berdasarkan permintaan klien. Di kelompok ini aku bertemu Yuri.
Saat kami berdua pertama kali melihat langsung aksi pembunuhan yang dilakukan oleh Yosuke, terus terang aku sangat kaget. Yosuke baru saja berusia 15 tahun, tapi ia dengan mudah menebas atau bahkan menembak hingga hancur kepala targetnya. Semua itu dilakukannya tanpa berkedip sedikitpun. Aku sama sekali ngak bisa nyangka apa yang bisa membuatnya seperti itu. Saat itu Yuri juga terdiam, aku rasa pemandangan seperti itu bagi seorang gadis muda pasti akan membuatnya shock. Tapi ternyata hal itu malah membuatnya ingin menjadi anggota kelompok ini, walau menurutnya saat itu, ia sudah gemetar ketakutan.
Semenjak bergabung, Yuri ditugaskan menjadi Courier, semacam perantara. Tugasnya adalah mencari klien yang bersedia menggunakan jasa para pembunuh yang berada dalam organisasi kami. Tapi belakangan ini, ia juga sudah mulai diberi tugas membunuh walau tidak sesering yang lain.
Selain menjadi Courier, Yuri juga menjadi assistenku di klub. Posisiku sebagai bartender memang agak merepotkan kalau tidak punya asisten, apalagi tamu yang datang ke klub tiap hari terus bertambah. Awalnya aku sangsi atas kemampuan Yuri, apalagi mengingat ia gak punya sedikitpun keahlian sebagai bartender. Tapi ternyata Yuri memang tipe orang yang cepat belajar. Dia itu tipe yang dapat bersungguh-sungguh bila dia ingin.
Terkadang aku merasa kasihan pada Yuri, sebagai seoarang gadis muda yang masih belia, dia sudah harus ikut ‘membersihkan’ tempat kotor ini. Yuri saat ini masih bersekolah di SMU bersama dengan temen-temen organisasi yang sebaya dengannya. Kalau aku melihatnya saat ia sedang bersenda gurau, rasanya aku melihat seorang gadis remaja biasa bukannya seseorang yang sudah membunuh belasan orang.
Yuri sangat menyukai musik, baginya musik itu adalah sesuatu yang menenangkan jiwanya. Bahkan pada saat dimana ia harus membunuh seseorang. Makanya Yuri selalu membawa music player dalam tasnya.
Yuri adalah gadis yang kuat, walau terpisah dari keluarganya, ia tetap tegar. Bahkan pada saat ia diharuskan memilih antara keluarga dan kami semua, ia lebih memilih kami semua dan meninggalkan keluarganya. Sebuah keputusan yang menurutku sangat gak mudah.
Aku ingat saat itu Yuri berkata, " Tanganku sudah berlumuran darah, walaupun aku bersama keluargaku beban ini gak akan pernah lepas. Lagipula takdir seorang pembunuh adalah menunggu saat dimana dia dibunuh seseorang, kan? Setidaknya kalo itu terjadi, aku gak akan membuat keluargaku sedih."
Aku gak akan pernah lupa tatapan matanya saat itu. Saat itu ia tersenyum tapi aku yakin ia sangat sedih. Rasanya aku ingin memeluknya dan menghapuskan semua kesedihan yang ia rasakan.
Tapi itu gak aku lakukan karena aku tahu Yuri bukanlah tipe gadis yang mau menunjukkan emosinya semudah itu. Walau aku sangat ingin menjadi orang yang dapat meringankan beban dihatinya tapi ia seakan menjauh. Disaat ia sendiri, Yuri pasti menangis, tapi ketika ia harus bekerja, ia tetap professional dan tersenyum melayani para fansnya di klub.
Yah, biar bagaimanapun Yuri adalah Yuri
Dia akan selalu tersenyum walau hatinya sedang saat terluka.
Yuri adalah Yuri yang selalu memperhatikan teman-temannya.
Aku gak tahu apakah ini namanya cinta, tapi yang jelas aku sangat sayang sama Yuri.
Dan aku akan melakukan apa saja agar Yuri tetap tersenyum
Aku yakin semua teman-temannya akan melakukan hal yang sama
Agar Yuri selalu bisa tersenyum manis.

0 komentar: